โœ‹๐Ÿป๐ŸŽผ๐Ÿ’ฅโš 

MUSIK DAN RITUAL IBADAH (Bagian 3)

โœ๐Ÿป Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifiโ€™ bin Sulaimi. Lc

Musik Dalam Timbangan Islam

Demikian halnya dengan Al-Wahidi, sebagaimana dalam pernyataannya: โ€œAyat ini meliputi siapa saja yang lebih memilih perkataan yang tidak berguna, nyanyian dan musik daripada Al-Quran. Karena kata isytira seringkali bermakna memilih dan mengganti.โ€ (Al-Wasith 3/441, dinukil dari Tahrim Alatith Tharbi hal. 144-145)

Para pembaca, Rasulullah Shalallahu โ€™alaihi wasallam juga telah memperingatkan umatnya dari fitnah musik. Di antara sabda beliau Shalallahu โ€™alaihi wasallam itu adalah: [1]

ู„ูŽูŠูŽูƒููˆู†ูŽู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู…ูŒุŒ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญูู„ูู‘ูˆู†ูŽ ุงู„ู’ุญูุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑููŠุฑูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุนูŽุงุฒูููŽุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠูŽู†ู’ุฒูู„ูŽู†ูŽู‘ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู…ูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูŽู†ู’ุจู ุนูŽู„ูŽู…ูุŒ ูŠูŽุฑููˆุญู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุจูุณูŽุงุฑูุญูŽุฉู ู„ูŽู€ู‡ูู…ู’ุŒ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู‡ูู…ู’ -ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุงู„ู’ููŽู‚ููŠุฑูŽโ€“ ู„ูู€ุญูŽุงุฌูŽุฉู ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง: ุงุฑู’ุฌูุนู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุบูŽุฏุงู‹ุŒ ููŽูŠูุจูŽูŠูู‘ุชูู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุถูŽุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽูŠูŽู…ู’ุณูŽุฎู ุขุฎูŽุฑููŠู†ูŽ ู‚ูุฑูŽุฏูŽุฉู‹ ูˆูŽุฎูŽู†ูŽุงุฒููŠุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

โ€œBenar-benar akan ada sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik/alat musik. Mereka tinggal di puncak gunung, setiap sore seorang penggembala membawa (memasukkan) hewan ternak mereka ke kandangnya. Ketika datang kepada mereka seorang fakir untuk suatu kebutuhannya, berkatalah mereka kepada si fakir: โ€˜Besok sajalah kamu kemari!โ€™ Maka di malam harinya Allah Subhanahu wataโ€™ala adzab mereka dengan ditumpahkannya gunung tersebut kepada mereka atau digoncang dengan sekuat-kuatnya, sementara yang selamat dari mereka Allah ubah menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.โ€ (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 5590 dari sahabat Abu Amir (Abu Malik) Al-Asyโ€™ari radhiyallahuanhu) [2]

Bagaimanakah sikap para sahabat Nabi Shalallahu โ€™alaihi wasallam dan para ulama yang mengikuti jejak mereka tentang musik? Apakah mereka pernah menjadikannya sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wataโ€™ala?

Dalam Majmuโ€™ Fatawa (11/297-298), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa para sahabat, para tabiโ€™in, dan seluruh pemuka agama ini belum pernah menjadikan musik dengan segala jenisnya sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wataโ€™ala, dan tidak pula menganggapnya sebagai taqarrub (pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wataโ€™ala) dan ketaatan, bahkan mereka menganggapnya sebagai bidโ€™ah yang tercela.

Sementara dalam Minhajus Sunnah 3/439, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menandaskan bahwa imam yang empat; Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafiโ€™i dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullah telah sepakat tentang keharaman musik berikut alatnya.

Lebih spesifik lagi, Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Talbis Iblis (hal. 230-231) menyitir sikap para pemuka murid-murid Al-Imam Asy-Syafiโ€™i rahimahullah dan generasi terdahulu madzhab Syafiโ€™i, bahwa mereka sepakat mengingkari musik dan mendengarkannya. Adapun di kalangan mutaโ€™akhkhirin, para pemuka mereka mengingkarinya, di antaranya Al-Imam Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari rahimahullah. Sedangkan yang membolehkannya, hanyalah orang-orang yang sedikit ilmu lagi dikuasai oleh hawa nafsu.

Para pembaca yang mulia, demikianlah beberapa dalil dan keterangan para ulama seputar haramnya musik dan mendengarkannya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. [3]

๐Ÿ“‘ Pembahasan Lengkap Seputar Musik dan Ritual Ibadah, Kunjungi Link Berikut : http://forumsalafy.net/musik-dan-ritual-ibadah/

๐Ÿ“š Sumber || Majalah AsySyariah || http://asysyariah.com

โšช WhatsApp Salafy Indonesia
โฉ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž