Bukan Semangat Kaleng-Kaleng

Bukan Semangat Kaleng-Kaleng
Thalabul ilmi atau ngaji adalah ciri khasnya seorang yang mengaku salafy ahlussunnah wal jamaah, karena mereka tidak boleh ridha dengan kebodohan. Oleh karena itu, dia harus semangat untuk datang ke majelis taklim agar bisa mendengar ilmu dan tidak menjadi orang yang bodoh terhadap agamanya.
Lihatlah para ulama salaf! Mereka adalah teladan di dalam mencari ilmu, karena semangat mereka bukan semangat kaleng-kaleng. Ini buktinya:
Sampai rela menginap agar dapat tempat di depan majelis
Al Hafizh Ja’far ibn Durustuwiyah, salah seorang murid dari Al Imam Ali ibnul Madini al Bashri rahimahullahu pernah mengisahkan tentang majelis syaikhnya, Ali ibnul Madini. Beliau bercerita, “Dahulu jika ingin bermajelis di majelisnya Imam Ibnul Madini, kami akan mendatanginya di waktu ashar, padahal majelis akan dibuka pada esok harinya. Kami pun duduk menunggu sepanjang malam di tempat kami karena khawatir jika tidak melakukan hal ini niscaya kami besok tidak mendapat tempat untuk mendengar hadits-hadits dari syaikh.”
(Al Jamiu li Akhlaqir Rawi-Khathib al Baghdadi 2/138 dan Al Adabusy Syariah-Ibnu Muflih 2/148).
Mengulang pelajaran sampai 100 kali, 70 kali dan 50 kali
Ibnul Jauzi rahimahullahu menyebutkan, “Dahulu Abu Ishaq asy Syairazi mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 100 kali, sedangkan Al Kiya (salah seorang ulama Asy Syafi’iyah) mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 70 kali. Al Hasan ibn Abi Bakr an Naisaburi al Faqih berkata kepada kami, Tidaklah tercapai hafalanku seperti ini (kuat) sampai diulang sebanyak 50 kali.
(Al Hatsu ala Hifzhil Ilmi-Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Jami fil Hatsi ala Hifzhil Ilmi, hal. 254, Maktabah Ibni Taimiyyah 1991).
Lebih suka ilmu dibanding keluarga
Sufyan ibn Uyainah berkata bahwa Mutharrif rahimahullahu pernah mengatakan, “Aku lebih menyukai duduk-duduk dengan kalian (para ahlul hadits) dibandingkan aku bersama keluargaku.”
(Sanadnya shahih, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 132, cet. Darul Furqan 2008).
Menuntut ilmu lebih disuka dibanding bersedekah dengan seluruh isi dunia
Al Hasan rahimahullahu berkata, “Sesungguhnya aku belajar satu bab dari permasalahan ilmu, kemudian aku ajarkan kepada seorang muslim, maka itu lebih aku sukai dibandingkan dengan mendapatkan dunia seluruhnya yang aku salurkan di jalan Allah.”
(Sanadnya shahih, lihat Shahih Al Faqih wal Mutafaqqih li Khathib al Baghdadi, hal. 13, cet. Darul Wathan 1997).
Belajar tak kenal batas waktu dan tempat
Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullahu berkata, “Abu Bakr al Khiyath an Nahwi selalu belajar di setiap waktunya, sampaipun ketika di jalan. Teradang dia sampai terjungkal ke tebing atau menabrak ketika berkendaraan dengan hewannya.
(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam’ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 40, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)
Umur bukan halangan tuk belajar
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata tentang Imam Abu Bakr al Qaffal, Abdullah ibn Ahmad al Khurasani rahimahullahu (termasuk dari ulama asy syafi’iyyah), “Beliau memulai belajar ilmu padahal umurnya sudah 30 tahun. Beliau pun tinggalkan pekerjaannya untuk memfokuskan diri kepada ilmu (pekerjaannya ketika itu adalah tukang kunci).
(Siyar Alamun Nubala 17/407).
Semoga ini bisa bermanfaat buat saya selaku penulis dan kaum muslimin pada umumnya, amin.
โž–โž–โž–
๐Ÿ’ Sedikit Faidah Saja (SFS)
โž–โž–โž–
๐Ÿ’พ Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr
@SedikitFaidahSaja
ilmu